Minggu, 27 Januari 2013
Siapa yang pernah
menonton 3 idiots?
Banyak. Siapa yang
suka film itu? Banyak
yg suka. Tetapi siapa
yg sebenarnya
mengambil pelajaran
paling cemerlang dari
film itu? Entahlah,
siapa yg mengambil
manfaatnya.
Ada ibu-ibu dengan
anak gadis yang siap
menikah. Menonton 3
idiots, ibu-ibu ini
sampai menangis.
Tapi saat anaknya
bilang mau menikah,
dan hanya akan jadi
ibu rumah tangga
saja, ibu-ibu
langsung bergegas
bilang, "nggak boleh.
enak saja sy
sekolahkan tinggi2,
hanya untuk jadi ibu
rumah tangga!"
Lihatlah, jawaban itu
menunjukkan sama
sekali tidak berbekas
pemahaman yang
datang dari film
barusan ditontonnya.
Kita ini sekolah
tinggi2 buat apa sih?
Buat nyari pekerjaan
keren? Buat jadi
pegawai? PNS? Buat
nyari rezeki? Keliru
kalau jawabannya
iya. Saya membuka
kitab-kitab,
membaca buku-buku
tua, menelusuri
kesemua hal, tidak
ada satupun nasehat
yang bilang:
sekolahlah tinggi2,
agar besok bisa jadi
pejabat, kaya raya,
dan berbagai ukuran
duniawi lainnya,
dsbgnya, dsbgnya.
Apalagi kalau
membuka kitab yg
tidak penah keliru: Al
Qur'an, juga merujuk
nasehat yg tidak
akan salah: riwayat
Rasul, seruan untuk
belajar, tidak ada
rumusnya dengan
ukuran duniawi.
Kita disuruh belajar,
mencari ilmu (dalam
dunia yg sangat
modern ini
ukurannya adalah SD,
SMP, SMA, S1, S2, S3,
S4, S5 dstnya), murni
agar kita banyak
tahu, asli agar kita
paham banyak hal,
dan ilmu itu b-e-r-m-
a-n-f-a-a-t bagi
kehidupan kita
sehari2. Seorang istri
yang S3, tidak ada
masalah sama sekali
tetap menjadi ibu
rumah tangga, dan
ilmunya bisa
bermanfaat utk
keluarganya. Ilmunya
bisa bermanfaat
buat tetangga,
sekitar, aktivitas apa
saja yg bisa dia
lakukan, terlepas
mau bekerja di
perusahaan/
pemerintah atau
hanya bekerja di
rumah.
Itu benar, saya tidak
akan
membantahnya,
memang ada korelasi
kuat antara
berpendidikan
dengan masa depan
cerah, tapi definisi
'masa depan cerah'
itu bukan s-e-m-a-t-
a-2 ukuran duniawi
yang membuat
proses belajar
selama ini jadi
kosong. Bukan hanya
itu.
Maka, kembali ke
film 3 idiots tadi,
bukankah Rancho
hanya belajar dan
belajar. Dia senang
belajar, dia senang
mencari ilmu. Titik.
Sisanya, serahkan
pada nasib. Dia tidak
peduli gelar, dia tidak
peduli mau bekerja
jadi apa, dia tidak
peduli. Bahkan saat
dia harus menyingkir
dari 'kehidupan',
pergi menjauh dari
gemerlap banyak hal,
justeru kehidupan
dan gemerlapnya
dunia yang datang
kepadanya.
Sementara Silencer,
teman kuliahnya dulu
yg selalu sibuk
berhitung atas
duniawinya, merasa
sudah memenangkan
segalanya, ternyata
kosong saja, dia
hanyalah orang yg
amat tergantung
nasibnya dgn orang
lain. Takut dipecat
kerja, tergantung
nafkahnya dari orang
lain, dan diperbudak
oleh materi.
Sejatinya Silencer
hanya orang
'suruhan', terutama
suruhan ambisi dan
nafsu duniawi--
meskipun direktur
sekalipun posisinya.
Aduh, bukankah
rumus ini banyak
terjadi di sekitar
kita? Ada banyak
teladan yg memilih
sibuk belajar, belajar,
bekerja, bekerja,
terus menjadi yg
terbaik, mau jadi
apapun dia, bahkan
sekadar ibu rumah
tangga, hidupnya t-
e-r-n-y-a-t-a tetap
spesial, bermanfaat
bagi banyak orang.
Sebaliknya,
buanyaaak sekali, yg
sibuk menghitung
nilai raport,
menghitung sekolah
sy elit, keren, saya
sudah S2, S3, situ apa
sih? sy sekolah di
kampus ngetop, situ
dimana sih?
Ternyata tidak
pernah lepas dari
kungkungan
hidupnya, meskipun
boleh jadi secara
kasat mata sukses
menurut ukuran
dunia saat ini.
Demikianlah.

0 komentar:
Posting Komentar